Pramuka, Teknologi, dan Garda Terdepan Bangsa
wartapramuka.com |Hari Pramuka ke-65 pada tahun 2026 menjadi momentum refleksi yang mendalam bagi Gerakan Pramuka dalam membuktikan relevansinya di tengah laju zaman Di era modern saat ini, medan perjuangan praja muda karana tidak lagi terbatas pada penjelajahan alam terbuka dan keterampilan tali-temali konvensional . Pramuka kini diperhadapkan dengan gelombang perubahan global yang sangat cepat, khususnya derasnya arus teknologi informasi, perkembangan kecerdasan buatan (AI), dinamika geopolitik, hingga tantangan ketahanan pangan dan energi Di sinilah karakter kepramukaan diuji untuk membuktikan diri sebagai garda terdepan dalam membawa Indonesia menuju kemajuan
Derasnya arus perkembangan teknologi digital dan AI tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang besar sekaligus "bahan bakar baru" bagi setiap anggota Pramuka untuk terus berlatih dan menempa diri Melalui pemanfaatan teknologi yang bijak, Pramuka dapat melengkapi dirinya dengan wawasan global, kedisiplinan, dan keterampilan modern yang relevan
Teknologi pada dasarnya hanyalah sebuah alat yang membutuhkan panduan moral agar bernilai positif.meskipun teknologi mampu melipatgandakan kapasitas diri, karakterlah yang bertindak sebagai kompas agar kekuatan besar tersebut membawa kemaslahatan. Tanpa fondasi moral kokoh yang bersumber dari Tri Satya dan Dasa Darma, generasi muda akan sangat rentan terseret ke dalam berbagai masalah sosial masa kini seperti perundungan, kekerasan, penyebaran hoaks, hingga memudarnya kepedulian sosial
Oleh karena itu, anggota Pramuka dituntut untuk bijak memilih dan memilah informasi Mereka harus mengambil maslahat dari kemajuan teknologi untuk pengembangan diri, sekaligus secara tegas membuang mudarat yang dapat merusak nilai-nilai kebaikan
Guna menjawab tantangan disrupsi ini, metode pendidikan kepramukaan mengalami transformasi yang signifikan. Jika dahulu kita mengenal metode belajar sambil melakukan “learning by doing” kini konsep tersebut berkembang menjadi “learning, creating, and solving” yaitu belajar, mencipta, dan menyelesaikan persoalan nyata secara langsung di lingkungan sekitar .
Hal ini terlihat nyata dalam tema Hari Pramuka ke-65 dan Jambore Nasional ke-XII Tahun 2026, yaitu “Berkreasi, Berinovasi, Terampil dan Mandiri untuk Mendukung Swasembada Pangan”Komitmen ini selaras dengan Asta Cita ke-2 Pemerintah Republik Indonesia mengenai penguatan ketahanan dan kemandirian nasional melalui swasembada pangan, energi, dan air
Bagi Pramuka, ketahanan pangan bukanlah sekadar urusan tanam-menanam di lapangan . Di dalamnya terdapat integrasi pendidikan karakter, penerapan teknologi tepat guna, pengelolaan sumber daya, efisiensi energi bersih, serta penumbuhan jiwa kewirausahaan sejak usia muda . Melalui aktivitas nyata seperti mengelola sampah, menanam bahan pangan, dan memanfaatkan potensi lokal, Pramuka dilatih menjadi pemecah masalah (problem solver) yang tangguh bagi masyarakat
Melalui proses tempaan yang konsisten dan adaptif , Gerakan Pramuka terus berupaya menyiapkan sumber daya manusia unggul untuk menyongsong Indonesia Emas 2045 Dengan berbekal jiwa kepemimpinan yang kuat, kemandirian yang mengakar, serta semangat gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa, Pramuka dipersiapkan untuk menjadi pemimpin masa depan yang berintegritas .
Pendidikan kepramukaan diharapkan mampu mencetak generasi yang tidak hanya bertahan di tengah gempuran teknologi, tetapi juga tumbuh sebagai inovator pangan, ilmuwan, teknolog, wirausahawan, dan profesional yang memiliki semangat pengabdian tanpa padam untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia
Pada akhirnya, karakter-karakter unggul inilah yang membuat Gerakan Pramuka akan selalu relevan Dengan menyatukan kekuatan teknologi dan kokohnya karakter bangsa, Pramuka siap berdiri kokoh di barisan paling depan sebagai garda terdepan yang menuntun Indonesia keluar dari disrupsi zaman menuju peradaban yang berdaulat, maju, dan bermartabat (MP)
Sumber : Marta Pujiono,S.Kom.I (MS)

Tidak ada komentar